Selasa, 09 Juni 2009

wanita mencari gigolo

Diana (45)

Bagi Diana, memburu gigolo dilakoni lantaran nafsu seks diusia senjanya justru makin menggebu. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, diakui suaminya telah angkat tangan. Lebih jauh dikatakan ibu dua anak yang bersuamikan seorang pejabat salah salah satu institusi pemerintah di Jakarta Pusat ini bahwa apa yang dilakoni secara tidak langsung telah mendapat ‘restu’ dari suaminya. “Habis mau bagaimana lagi. Suamiku sudah angkat tangan. Kami ngga mau ribut apalagi sampai cerai. Malu sama anak-anak. Solusinya kayaknya hanya itu,” papar Diana. Dikatakan bahwa awalnya suaminya juga tidak setuju dan menentang keras. Namun akhirnya luluh juga.

Meskipun secara tak langsung setuju, namun untuk jadwal ‘membeli’ gigolo, tentu saja dilakoni secara diam-diam alias tidak harus selalu pamit pada suaminya.

“Dia ngerti kok. Pokoknya kalau aku bilang mau pergi, ia nggak mau banyak tanya,” tegas wanita yang mengaku ‘jajan’ gigolo bisa empat kali dalam seminggu. Ditambahkan bahwa itupun sebenarnya masih kurang, namun lantaran ada perasaan tidak enak, terkait dengan urusan kocek, dimana untuk sekali kencan tak kurang dari Rp. 1 juta harus dikeluarkan, Diana akhirnya harus puas dengan jadwal tersebut.*

Evita (36)

Awalnya kegemaran berburu gigolo bagi Evita dijalani hanya sebatas mencari variasi seks. “Aku bosan dengan permaianan suamiku yang itu-itu melulu. Atas saran seorang teman, aku diminta ‘mencicipi’ laki-laki penjaja seks (gigolo-red) yang katanya memiliki gaya seks yang dahsyat.

Tetap dipandu teman-teman yang sebelumnya sempat merasakan kehebatan para gigolo, Evita diajak kongkow disebuah kafe ternama di pusat perbelanjaan papan atas yang berada dibilangan S Jakarta Selatan.

“Agak kikuk juga sih, apalagi saat saya diketemukan dengan laki-laki muda, ganteng dan postur tubuhnya benar-benar gagah. Tak bisa kebayang deh. Dalam benak saya, tentu pemuda yang kala itu duduk di depan saya, juga benar-benmar gagah di ranjang,” kenang Evita.

Hanya untuk mendapatkan variasi seks semata pada awalnya, sore itu akhirnya ia membuking sang gigolo dengan tarif Rp. 1,5 juta di sebuah hotel bintang tiga dibilangan Jakarta Pusat.

Apa yang selama ini hanya menjadi mimpi Evita, seputar urusan ranjang, benar-benar didapatkan. Sore itu wanita asal Sumedang Jawa Barat ini mengaku benar-benar merasakan puncak kenikmatan yang selama ini tak didapatkan ketika bersebadan dengan suaminya.

Pengalaman pertama itulah yang akhirnya membuatnya ketagihan, berikut berpetualang sebagai pemburu gigilo. Tentu saja, dalam aksinya, suaminya sama sekali tidak tahu sepak terjangnya.*

Dea (40)

NIKMAT LUAR BIASA

Sebelumnya Dea cuma pehobby chating di internet. Alasannya, sebagai pengusir rasa sepi. Maklum, suaminya yang seorang pengusaha adalah laki-laki super sibuk. Dari sekedar mengklik situs di internet, iseng-iseng Dea menjelajahi sebuah situs yang membuatnya penasaran. Situs tersebut tak lain menawarkan jasa-esek-esek layanan gigolo janjinya menebar kenikmatan.

Dea tertarik, apalagi nomor ponsel di situs tersebut jelas-jelas disebutkan. Iseng-iseng ia menghubungi nomor tersebut. “Waktu aku telpon, aku dengar suaranya ramah, sopan dan dewasa banget. Entah perasaan apa, tiba-tiba hatiku tergetar ingin bertemu dengan laki-laki yang mengaku bernama Daniel itu. Akhirnya aku janjian disuatu tempat,” tutur Dea

Dari pertemuan pertama itu, Dea mengaku tak langsung tembak. “Aku hanya sering menelepon dia, ngobrol sana sini, hingga akhirnya kali kedua aku bertemu dengannya. Dia cerita semua pengalamannya hingga kenapa ia berbuat begitu,” tambah Dea.

Kejujuran itu justru membuat hati Dea luluh. Ia mulai membantu kebutuhan Daniel. Awalnya ia tak berharap imbalan. Termasuk seputar pemuasan hasrat wanitanya. Namun dua bulan berselang sejak perkenalan itu, Dea mengaku tertarik. Hingga saat Daniel mengajak chek in, ia tak menolaknya.

“Aku nggak menyangka, tertanyata promosi yang ditawarkan di internet benar-benar ada faktanya. Aku merasakan nikmat yang lain dan membuatku ketagihan,” lanjut Dea yang lantaran takut kehilangan Daniel, dia sengaja ‘memelihara’ gigolo itu.*

***

Thung Ju Lan, Sosiolog

TIDAK MERUGIKAN

Bicara gigolo berarti kita bicara kelompok kecil yang termarginalkan. Gigolo yang marak di Jakarta karena pengaruh budaya yang berkembang. Gigolo juga menyangkut masalah mempertahankan hidup dalam dunia yang penuh persaingan.

Dalam kacamata Thung Ju Lan, sosilog dan pengajar di Universitas Indonesia, jika dilihat dalam lingkup ilmu sosiologi, gigolo adalah gejala umum yang wajar berkembang. Karena penyimpangan seperti itu mengikuti pikiran manusia yang selalu berkembang.

Di Indonesia, gigolo dikaitkan dengan agama, etika moral, dan hukum. Padahal dalih-dalih tersebut tidak bisa mengatur ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat. Kalau ditanya, apakah profesi gigolo itu, harus diatur negara atau masyarakat, maka persoalan itu akan rumit.

“Profesi gigolo tidak merugikan orang lain. Kalau kita bicara fenomena itu, maka kita bicara Hak Asasi Manusia (HAM),” terang Thung yang di temui Exo Selasa siang (06/10).

Dikatakan bahwa dalam satu sisi kehadiran gigolo ini tidak merugikan orang lain, karena apa yang dia perbuatan ada sisi positif dan negatifnya. “ Jadi dalam fenomena gigolo ini, akan sulit kalau kita bicara harus begini dan begitu. Dunia sekarang tidak ada yang bicara ‘harus’ lagi,” kata Thung.

Untuk meminimalkan gigolo atau orang yang bertabiat aneh-aneh, menurutnya kita harus meminimalkan ketimpangan yang ada di masyarakat. Persoalannya profesi gigolo itu, menyangkut persaingan hidup. “Orang melakukan perbuatan itu adalah orang yang mencari identitas diri untuk mempertahankan hidup,” lanjutnya.

Ditambahkan, bahwa gigolo itu berbuat hal yang aneh-aneh karena aturan yang ada hanya membela kelompok tertentu. Padahal aturan dibuat untuk mengakomodir semua kelompok dalam masyarakat. “Gigolo itu kan, manusia juga. Perlu perlindungan hak sebagai warga negara. Mereka harus kita dekati melalui komunikasi yang wajar. Berikan hak yang sama seperti warga yang lain. Jika kita memperlakukan mereka seperti itu, maka tidak akan ada orang yang berlaku aneh-aneh di dunia ini,” ujarnya.

Dalam dunia modern penyimpangan akan terus terjadi, karena penyimpangan itu, menyangkut cara bersaing. Jika mereka bisa menciptakan prilaku aneh maka orang tersebut akan menang dalam persaingan.*
 

cari teman kencan. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com | NdyTeeN